Email dan Tulisan (oleh Jack Manuputty) dikirim oleh Bung Piet (Piet Pattiwaellapia)

Teman's

Berikut saya berikan kondisi faktual Ambon pasca rusuh 11 September 2011 dan upaya mitigasi perdamaian yang dilakukan masyarakat sipil Ambon. Tulisan ini adalah hasil kerja keras Bung Jacky Manuputty Cs.  Sengaja kami menyampaikan tulisan ini  kepada semua teman di seluruh Indonesia, shg mengetahui keadaan Ambon terkini. Harap bisa diteruskan melalui millis dan blog ke semua teman yang lain. Kami punya kekuatiran, apa yang telah diupayakan stakeholder lokal untuk menciptakan Ambon yang damai,  dikaburkan dengan informasi sesat yang sampai ke teman2 semua. Terbukti, ada kecenderungan saudara2 kita yang dari Jawa mau ke Ambon untuk berjihad, kami maklumi itu, karena mereka mendapat informasi Ambon yang tidak proposional.
Semoga info ini, mejadi pikiran dasar untuk secara nasional kita ciptakan negeri ini (NKRI) menjadi negeri yang damai.

Piet Pattiwaellapia (Koalisi Pengungsi Maluku)

MERETAS JALAN DAMAI


Sejak kemarin, 13 September 2011 sampai hari ini situasi keamanan di Ambon boleh dikatakan semakin baik. Kemarin subuh saya bersama beberapa teman mencoba berjalan kaki pada beberapa ruas jalan utama untuk memantau aktifitas masyarakat, serta mengukur tingkat interaksi masyarakat di ruang publik. Di depan PHB, kami melihat beberapa anak sekolah SLTA berseragam menyeberangi jalan menuju sekolah mereka di daerah Tanah Tinggi (wilayah dominan Kristen). Mereka adalah anak-anak prajurit TNI yang tinggal di komplek PHB. Perginya anak-anak tentara ke sekolah bagi kami merupakan salah satu indikator berkembangnya situasi aman di Kota Ambon. Dalam perjalanan itu kami gembira menjumpai beberapa penjual koran eceran mulai menjajakan korannya di jalan. Begitu pula pengayuh-pengayuh becak, secara terbatas mulai melewati jalan-jalan yang sehari sebelumnya terlihat sangat sepi dan lenggang. Di beberapa pojok jalan berpapasan dengan pemuda-pemuda tukang ojek dengan wajah gembira menawarkan jasa ojek kepada orang yang lalu lalang disekitar situ. Sekalipun beberapa ruas jalan masih dipersempit, namun kami menemukan banyak pengguna jalan sudah memberanikan diri melewati wilayah-wilayah perbatasan, seperti Galunggung (Muslim) dan Galala (Kristen).

Dengan hati gembira kami memutuskan untuk mengunjungi wilayah Mardika Bawah/Halong Mardika yang terbakar sehari sebelumnya. Kegembiraan kami berangsur sirna ketika tiba di wilayah itu dan melihat sebuah rumah mulai terbakar di hadapan pemiliknya, sementara disekitarnya terlihat puluhan aparat Raiders 733 Kodam Pattimura berseliweran tanpa melakukan apapun. Anak-anak yang “dianggap” (oleh warga Mardika) membakar rumah itu terlihat memasuki rumah untuk (sekedar) memadamkannya dengan menggunakan air pada gayung-gayung kecil. Warga Mardika serta pemilik rumah hanya menonton sambil memaki-maki mereka, karena aparat tak memberi kesempatan bagi mereka untuk mengamankan rumah itu, atau melakukan pemadaman sendiri. Api terlanjur membesar dan tak ada tindakan apapun dari puluhan aparat yang menonton. Barulah 1,5 jam kemudian, datang sebuah mobil pemadam kebakaran dan menyiram sisa-sisa bara api yang masih menyala. Di jalan raya, kami temukan banyak barang peralatan rumah tangga yang diletakan oleh keluarga-keluarga disekitar wilayah situ, dalam persiapan mereka untuk mengungsi ke lain tempat. Menurut kami, sikap aparat yang demikian akan berakibat pada pelanggengan emosi yang sewaktu-waktu dapat menyulut konflik. Syukurlah bahwa disaat kejadian itu berlangsung, banyak pengendara kendaraan tetap tenang melewati daerah itu, tanpa diganggu oleh masyarakat korban yang sedang menonton rumahnya terbakar. Kesadaran masyarakat untuk tidak memperbesar konflik patut diacungkan jempol.
Sambil dipenuhi kemarahan karena melihat ulah aparat, kami meninggalkan daerah itu menuju perbatasan Batu Merah-Mardika. Disana kami memperhatikan kendaraan-kendaraan yang mulai melewati perbatasan, dan juga mengamati ekspresi penumpang kendaraan serta masyarakat sekitarnya. Merebak harapan bagi berkembangnya damai, ketika kami melihat bahwa dengan senyum tersungging banyak pengguna jalan melewati daerah itu, sekalipun kami tahu bahwa tentunya mereka menyimpan ketegangan di dalam hati. Dari pertigaan Batu Merah-Mardika kami menyusuri wilayah Belakang Soya, dan mampir sebentar untuk menjenguk para pengungsi yang menempati kantor SKB serta kantor DPR Kota Ambon yg terletak di wilayah itu. Hujan semakin deras ketika kami kembali ke kantor pada jam 12.00am. Di dalam hati kami berharap hujan turun deras hari ini, supaya kemungkinan-kemungkinan gerakan masa konflik bisa diredam.
Sekembalinya kami ke kantor, catatan berbagai issue liar sudah menunggu untuk diklarifikasi. Tentunya ini hal yang menyenangkan, karena membuktikan bahwa teman-teman aktivis perdamaian bekerja semakin intens untuk melakukan klarifikasi issue-issue liar dan provokatif lintas wilayah. Teman-teman telah bersepakat untuk mengimbangi kecepatan penyebaran issue-issue provokatif, dengan cara memperluas “provokasi perdamaian” melalui jaringan pertemanan lintas agama. Melakukan klarifikasi issue-issue merupakan salah satu agenda yang secara intens dilakukan.
Sekitar jam 2pm kami menerima telpon menggembirakan, yang menginformasikan adanya perjumpaan teman-teman KNPI Daerah Maluku di salah satu warung kopi. Pertemuan ini berujung pada kesepakatan untuk mengembangkan intensitas perjumpaan-perjumpaan di ruang publik. Sayangnya kami tak bisa menghadiri pertemuan ini, karena kami telah bersepakat melakukan pertemuan “provokasi perdamaian” lintas iman dengan teman-teman lainnya. Pada sore harinya sebuah berita gembira lainnya diterima, bahwa pada hari itu/Selasa, 13/09/2011, di Pulau Saparua, tepatnya di Negeri Siri Sori Salam/Islam, telah dilakukan Rapat Saniri Latupati/”Raja-raja adat” bersama muspika dan tokoh-tokoh agama untuk menyikapi konflik di Ambon, dan memperkuat koordinasi pengamanan Pulau Saparua. Selain perjumpaan pemuka adat & agama di Pulau Saparua, intensitas perjumpaan warga masyarakat lintas agama nampak semakin berkembang di kota Ambon. Di salah satu pusat perbelanjaan yang terletak di wilayah Urimesing, terlihat beberapa warga pemeluk agama lainnya berbelanja dengan tenang sambil, diantaranya, menggendong anak balitanya. Pemandangan serupa terlihat di restaurant cepat saji, KFC, yang berlokasi di wilayah yang sama. Beberapa pemuda lintas agama dengan santainya makan bersama sambil bercanda.

Pada jam 8pm, kembali kami memperoleh kiriman sms untuk menganalisa dan mengklarifikasi beberapa issue yang memicu ketegangan masyarakat di beberapa wilayah. Diantaranya, issue bahwa rombongan FPI telah tiba di Ambon dan merencanakan serangan fajar ke wilayah Waringin, gereja Silo, Ahuru dan Aster. Memperoleh informasi itu, teman-teman Muslim segera menyebar untuk mengklarifikasinya. Ternyata semua issue itu tak benar, dan karenanya diinformasikan kembali kepada komunitas Kristen di wilayah-wilayah tersebut. Tidak saja menyampaikan informasi, teman-teman bahkan berupaya menghubungkan Ibu pendeta jemaat GPM di wilayah Ahuru dengan teman Muslim di wilayah yang sama. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat saling mengklarifikasi berkembangnya issue secara langsung melalui hubungan telpon. Selain issue Ahuru, diperoleh kabar juga bahwa Negeri Galala akan diserang oleh komunitas Muslim dari wilayah Aster. Banyak warga Galala segera berkemas untuk mengungsi. Ternyata issue ini tak benar, setelah diteliti oleh teman-teman Muslim. Lucunya, issue itu berkembang setelah terjadinya insiden bentrokan suami-isteri satu keluarga Kristen di wilayah Aster, diakibatkan sang suami mabuk berat. Suami yang mabuk itu kemudian mengacau dan menimbulkan kepanikan warga sekitar. Di dalam kepanikan itu, beberapa orang lalu memukul tiang listrik, yang sekaligus mendistribusikan kepanikan itu kepada warga Galala. Masih pada malam yang sama beredar issue bahwa pasukan batalion Siliwangi telah tiba di Ambon pada hari itu. Informasi yang nyatanya keliru,setelah dilakukan uji ulang. Masih banyak sekali issue yang berkembang pada malam itu, dan sebagian besar diantaranya berhasil diklarifikasi melalui jejaring persahabatan lintas batas, yang berjuang keras memprovokasi perdamaian.

Bersama dingin subuh kami tiba di rumah, setelah melewati jalanan-jalanan lenggang yang dipenuhi aparat keamanan, sepanjang ruas jalan raya Pattimura menuju daerah Batu Gantung. Beberapa mobil panser TNI berdiri angkuh memalang jalan, sementara para prajurit TNI bersenjata lengkap berjaga-jaga disekitarnya. Sisa malam itu kami lewati dengan pulas untuk menghimpun tenaga bagi pekerjaan lanjutan keesokan harinya.
Jam menunjukan pukul 10am, Rabu 14/09/11, ketika kami terbangun dan mendapati arus kendaraan telah ramai di daerah Batu Gantung. Meskipun jalanan raya memasuki daerah Waihaong masih diblokir aparat TNI, namun kami memberanikan diri untuk melewatinya dalam perjalanan menuju ke jalan raya Pattimura. Sepanjang jalan di wilayah Waihaong, kami menyaksikan warga masyarakat Muslim telah beraktifitas dengan ramai. Jalur dua arah yang baru dibuka sebagai akibat dari konflik, cukup disesaki oleh aktifitas masyarakat pagi itu. Beberapa teman Muslim yang kami jumpai dalam perjalanan itu menyapa kami dengan ramah. Sesekali kami berhenti untuk bercakap-cakap sebentar dengan mereka. Tidak terasa adanya ketegangan berlebihan disitu, bila mengingat wilayah itu merupakan tempat tinggal pengemudi ojek yang meninggal, dimana kematiannya kemudian memicu terjadinya konflik antar masyarakat. Di depan Masjid Jami’e kami menyaksikan banyak pengungsi menempati beranda masjid. Suatu fakta yang dengan jelas menginformasikan bahwa konflik “antar pemeluk agama” telah mengakibatkan kesusahan yang amat sangat bagi kedua komunitas. Tentu tak ada yang akan pernah memenangkan konflik ini, karenanya hanya tersedia satu opsi untuk diambil masyarakat, DAMAI! Syukurlah bahwa, dalam pantauan kami, mayoritas warga masyarakat menginginkannya. Konflik sebelumnya pada tahun 1999-2004 menyisakan trauma dan kengerian yang cukup panjang, bagi siapapun yang mengalaminya. Karena itu hampir seluruh warga masyarakat secara antusias mendukung, dan bahkan terlibat dalam upaya-upaya damai, sekalipun dengan kapasitas dan bentuk yang berbeda-beda. Kecuali tentunya kelompok-kelompok kecil yang berupaya mengambil keuntungan dari merebaknya konflik baru.
Pada jam 12am sampai jam 3pm, bersama beberapa sahabat lintas iman, kami menjumpai beberapa teman yang baru tiba dari Jakarta untuk kepentingan investigasi. Rupanya konflik Ambon masih menjadi magnet kuat bagi banyak teman dari luar, untuk datang dan mengamatinya dari dekat, seraya berupaya memberikan kontribusi pemikiran terkait langkah-langkah penghentian kekerasan dan upaya-upaya membangun perdamaian. Dalam percakapan bersama di dua hotel terpisah, kami melakukan pemetaan aktor lokal dan jaringannya, yang diduga kuat turut memperkeruh situasi konflik. Tanpa rasa sungkan, baik teman Muslim maupun Kristen, mengemukakan aktor-aktor lokal yang ada di komunitas masing-masing secara terbuka. Begitu pula dianalisa peran-peran mereka, yang dianggap memprovokasi peningkatan eskalasi konflik. Percakapan kami kemudian berkembang lebih luas untuk mengkaji fenomena radikalisasi, serta sebaran kelompok-kelompok radikal pada komunitas-komunitas agama di Ambon.
Sementara berlangsungnya percakapan, saya harus meninggalkan teman-teman untuk mengantarkan dua teman warga negara asing, yang akan berangkat ke Masohi dengan menumpangi kapal cepat dari pelabuhan Mamokeng di Negeri Tulehu. Bergegas saya menyewa taksi di pangkalan taksi sekitar Ambon Plaza untuk menjemput kedua teman ini di hotel yang terletak di “pemukiman Kristen.” Pengemudi taksi berasal dari negeri Tulehu, dan karenanya percakapan diantara kami menjadi menarik, terkait pandangannya dan pandangan masyarakat Tulehu terhadap berkembangnya konflik baru ini. Masyarakat Tulehu merupakan salah satu komunitas Muslim besar di Jazirah Salahutu, Pulau Ambon. Di negeri ini terletak pelabuhan besar antar pulau, yang melayani penyeberangan antar pulau dari Ambon ke pulau Seram, Nusalaut, Saparua dan Haruku. Sebagian besar komunitas dari pulau-pulau ini dihuni oleh warga beragama Kristen. Mereka sangat bergantung pada pelabuhan Tulehu sebagai tempat transit dalam perjalanan ke Kota Ambon. Selama konflik lalu, pelabuhan ini tertutup dalam jangka waktu lama, karena Jazirah Salahutu termasuk area sebaran konflik. Belajar dari pengalaman itu, maka sejak hari pertama konflik, pertemuan negeri-negeri di Salahutu telah dilakukan. Salah satu keputusannya adalah memberikan jaminan keamanan sepenuhnya bagi semua pengguna jasa pelabuhan, apapun perbedaan agamanya. Karenanya tak heran bahwa sepanjang perjalanan ke Tulehu, bung pengemudi taksi dengan bangga bercerita panjang lebar tentang ketahanan masyarakat negeri Tulehu, untuk tidak terpancing provokasi-provokasi liar yang bisa memicu konflik disana. Halmana terbukti setibanya kami disana. Para buruh pikul, serta penjaja makanan kecil, dengan ramah menawarkan jasanya bagi kami. Mereka bahkan menemani kami membeli ticket kapal untuk kedua teman saya. Setelah kedua teman ini memperoleh tempatnya di kapal, segera saya bergegas kembali ke Ambon dengan menumpangi mobil yang sama, sambil menikmati celotehan ramah pengemudi taksi ini tentang kekecewaan-kekecewaannya terhadap merebaknya konflik baru, serta harapannya pada penyelesaian konflik ini secepatnya.
 Setibanya di Ambon, segera saya bergabung kembali dengan rekan-rekan yang telah menyelesaikan percakapannya dengan rekan peneliti dari Jakarta. Kami telah bersepakat untuk kembali melakukan pertemuan “provokasi damai” di wilayah lain hari itu; dan tempat yang kami pilih adalah warung ikan bakar yang berderet sepanjang daerah sekitar Ambon Plaza. Disana saya temukan beberapa teman wartawan telah bergabung untuk mewawancarai kami, maupun untuk mengklarifikasi beberapa data yang mereka miliki. Percakapan lepas diselingi wawancara berlangsung santai, diselingi joke-joke khas Maluku yang membuat suasana semakin mengasyikan. Selain melanjutkan klarifikasi issue dan data-data lain, kami secara serius membicarakan model intervensi bagi beberapa wilayah pinggiran yang tidak terimbas konflik, namun yang memiliki tingkat ketegangan tinggi diantara masyarakatnya. Wilayah-wilayah itu antara lain di sekitar Poka, Rumah Tiga, Wayame dan Kota Jawa. Dirasa perlu untuk melakukan intervensi program di wilayah-wilayah ini, dengan mempertimbangkan percampuran masyarakat lintas agama yang tinggal disitu. Akhirnya kami tiba pada kesepakatan untuk membuat design program dalam waktu beberapa hari ke depan, serta mengupayakan pembiayaannya. Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) diharapkan membuat design intervensinya dengan didukung oleh teman-teman lainnya.
Selepas makan bersama, kami memutuskan untuk melanjutkan percakapan di kantor Litbang GPM, dengan mengajak lebih banyak teman lainnya. Beberapa teman telah lebih dahulu menunggu disana ketika kami tiba. Percakapan dimulai setelah kami menonton display foto-foto suasana konflik pada beberapa wilayah di Kota Ambon. Kumpulan foto-foto ini diperoleh dari teman-teman lintas agama, yang mengabadikan setiap peristiwa konflik dari sudut-sudut pengambilan gambar yang berbeda. Dengan begitu kami memperoleh gambaran yang cukup utuh, baik dari sudut pandang wilayah Muslim maupun Kristen, disaat terjadinya benturan masa sejak konflik pada hari Minggu lalu. Berdasarkan kajian foto kami melakukan analisa lanjutan dan berbagi pengalaman bersama tentang peristiwa demi peristiwa pada komunitas kami masing-masing. Tak terkesan ada informasi yang disembunyikan. Semua rekan mengemukakan versi ceritanya terhadap peristiwa yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
Beberapa orang diantara sahabat-sahabat Kristen kami yang hadir dalam percakapan dimaksud, adalah mereka yang juga korban pembakaran rumah, dan yang saat ini turut mengungsi bersama keluarganya. Menariknya, tak terkesan sedikitpun dendam atau kemarahan berlebihan yang mendistorsi jalannya percakapan kami; bahkan teman-teman yang menjadi korban ini turut memberikan sumbangan pemikiran, dan ide-ide konstruktif untuk mengembangkan dialog dan perdamaian. Sementara itu teman-teman Muslim dengan gamblang mengemukakan analisa-analisanya, sambil saling melengkapi detail data dengan teman-teman Kristen. Sesekali percakapan kami terpotong dengan telpon atau SMS yang meminta klarifikasi terhadap issue-issue yang berkembang. Salah satu issue yang sempat kami klarifikasi malam ini adalah beredarnya informasi di kalangan warga Kristen daerah Talake, bahwa salah seorang pengendara sepeda motor beragama Kristen yang mencoba melintasi wilayah Waihaong, kemudian terjatuh dan dibantai disana oleh komunitas Muslim Waihaong. Segera setelah menerima SMS itu, teman-teman Muslim melakukan klarifikasi ke Waihaong dan memperoleh informasi bertentangan. Menurut teman-teman di Waihaong, adalah benar bahwa ada seorang pengendara motor yang terjatuh disitu, namun ia diselamatkan segra oleh aparat keamanan yang bertugas disitu. Selanjutnya ia diantar pulang tanpa bersentuhan dengan satupun warga Muslim Waihaong. Informasi ini kemudian diteruskan kembali kepada komunitas warga Kristen Talake, dan mereka menerimanya dengan sukacita.
Percakapan berlangsung terus dengan penuh semangat tentang berbagai peristiwa yang terjadi. Rekan-rekan Muslim dengan gamblang bercerita bagaimana mereka berhasil mengidentifikasi dan menemukan salah seorang pemuda Muslim yang melakukan provokasi di media sosial FB. Sementara itu teman-teman Kristen mengemukakan kecurigaan mereka terhadap beberapa pemuda Kristen yang disinyalir turut memprovokasi masyarakat untuk berkonflik. Berdasarkan percakapan yang terjadi, kami menyepakati untuk merevisi struktur tabel pendataan kronologis kejadian, dimana setiap rekan diminta mengisinya dari hari ke hari. Dengan begitu kami bisa dilengkapi dengan sejumlah data yang cukup otentik, untuk melakukan analisa lanjutan secara bersama.
Selain mendiskusikan format pendataan, kami membicarakan juga pengembangan dinamika berbagai kelompok yang teridentifikasi melakukan upaya-upaya “provokasi perdamaian.” Bila memungkinkan, kami merencankan untuk menganyam kelompok-kelompok ini melalui beberapa kegiatan; namun salah satu persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana kami membiayai proses-proses bersama ini, apabila kegiatan-kegiatan ini memiliki konsekwensi pembiayaan. Sejauh ini, semua kami bekerja secara sukarela berdasarkan idealisme dan keterpanggilan setiap teman untuk membangun perdamaian. Menyadari tantangan ini, teman-teman lalu menyepakati bahwa kami perlu membatasi diri dulu, dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak memiliki konsekwensi pembiayaan. Dengan begitu intensitasnya bisa terjaga tanpa harus menggantungkan diri pada pembiayaan. Diakhir percakapan malam ini, kami meminta salah satu teman peneliti, yang datang dari Salatiga, untuk melakukan sedikit pembedahan terhadap dinamika dialog lintas agama, serta pemetaan ideologi kelompok-kelompok konservatif agama. Percakapan pada sesi terakhir ini menarik karena teman peneliti (yang sedang melakukan penelitian tentang konflik Maluku bagi disertasi doktornya) ini mengemukakan beberapa hasil penelitiannya, yang diantaranya memperhadapkan kami dengan fakta, bahwa kapasitas dialog dan apresiasi lintas agama di Maluku masih berada pada level yang rendah. Banyak orang bisa dengan gamblang memperlihatkan sikap toleran, dan respek yang tinggi terhadap kemajemukan agama, bilaman ia hadir dalam ruang publik. Sebaliknya ketika ia kembali ke ruang private, ia menjadi orang-orang yang sangat konservatif dan intoleran. Suatu fakta yang tentunya menarik, dan menjadi tantangan bersama, bagi teman-teman yang sungguh-sungguh bekerja bagi perdamaian dan dialog lintas agama di Maluku saat ini. Dalam percakapan ini kami juga secara gamblang mengulas fenomena berkembangnya radikalisasi agama di Ambon dan sekitarnya diantara kelompok-kelompok anak muda. Hal yang sangat menantang tentunya untuk disikapi.
Percakapan hangat kami malam itu terputus dengan ketukan pintu yang terdengar beberapa kali. Ternyata setelah dibuka, kami menemukan Wakil Walikota/wawali Ambon dan beberapa temannya telah berdiri disitu. Mereka kami persilahkan masuk dan bergabung dalam percakapan bersama, sehingga kami bisa juga mengetahui sikap dan strategi pemerintah Kota Ambon untuk menangani konflik ini. Percakapan bersama wawali dan teman-temannya berlangsung lebih kurang 45 menit sebelum mereka meninggalkan ruang. Kami menyepakati untuk melakukan tanggung jawab kami masing-masing dan bersinergi untuk meningkatkan dinamika perdamaian di Kota Ambon. Satu hal yang digaransi wawali malam ini, bahwa ia telah mencoba “mengunci” pemain-pemain lokal lama konflik Maluku, untuk tidak melibatkan diri dalam dinamika konflik saat ini; namun yang dikhawatirkan bilamana kelompok-kelompok dari luar Maluku berdatangan ke Ambon, dan kembali meningkatkan militansi konflik. Terhadap kekhawatiran itu, pemerintah kota telah mengambil sikap untuk melaklukan razia identitas secara ketat terhadap semua pendatang yang memasuki Ambon saat ini. Tentunya kami berharap langkah ini bisa membuahkan hasil yang baik untuk mereduksi dinamika konflik, dan mengembangkan dinamika damai secara maksimal. Sebelum meninggalkan ruang, kami bersepakat untuk meningkatkan koordinasi bersama terkait upaya-upaya damai yang dilakukan pihak pemerintah Kota Ambon.
Seluruh percakapan diselesaikan sekitar jam 11pm, sebelum teman-teman Muslim kembali ke rumah masing-masing. Sementara teman-teman Kristen memutuskan untuk begadang semalaman dan mengisi tabel kronologis, atau juga melakukan “provokasi damai” secara online. Saat update berita ini diselesaikan pada jam 7am, 15/09/11, beberapa teman sudah tergeletak tidur beralaskan bangku, atau bahkan melonjorkan badan di lantai seadanya. Kasur mereka adalah mimpi indah tentang merebaknya perdamaian yang langgeng bagi Ambon dan Maluku.
Apa yang kami lakukan secara strategis sesungguhnya merupakan hal sangat sederhana yang kerap dilupakan banyak orang. “Provokasi Perdamaian” dilakukan dengan memanfaatkan “jaringan pertemanan” yang digandakan, dan diperbesar lingkarannya dari hari ke hari. Pertemanan individu digandakan dengan harapan terjadinya pertemanan kelompok. Kami menyadari bahwa pertemanan yang tulus tak membutuhkan banyak duit. Begitu pula tak diikat oleh agenda-agenda politik, atau bertujuan mencari keuntungan-keuntungan tertentu dibalik setiap kegiatan bersama. Militansi pertemanan menjadi semakin kokoh, ketika disadari bersama bahwa di dalam membangun relasi pertemanan setiap orang harus saling menyelamatkan. Konflik adalah tantangan besar yang akan menghancurkan pertemanan kami, bilamana tak dikelola dengan baik. Dengan sendirinya mengelola konflik secara strategis, merupakan upaya saling menjaga diantara teman, demi keselamatan bersama ke depan. Begitulah yang kami lakukan dengan sadar, sambil berharap dengan sungguh-sungguh, bahwa upaya-upaya kecil ini bisa mentransformasikan energi negatif konflik menjadi energi positif damai. Semoga teman-teman tetap bertahan untuk mengelola hal-hal kecil ini dengan konsisten dalam suatu proses panjang, sambil memanen sukacita moral disaat jalan perdamaian mulai teretas.

Jacky Manuputty

Kronologis Konflik Ambon, Minggu 11 September 2011

Yth kawan-kawan sekalian 
Berikut informasi yang didapatkan oleh jaringan JaRI (Jaringan Rakyat Berdaya dan Siaga Indonesia) di Ambon melalui koordinator KPM (Koalisi Pengungsi Maluku) yaitu Bung Piet ( Piet Pattiwaellapia ) yang mendapatkan informasi langsung dari lapangan serta pertemuan-pertemuan yang dilakukan dengan masyarakat, menyebutkan,

Konflik Ambon Minggu, 11 September 
dipicu oleh karena meninggalnya seorang tukang ojek warga Waihaong yang bernama Darmin Saiman, beragama Muslim.  Kabar tewasnya korban menyebar luas dengan cepat. Informasi pun simpang siur. Ada yang mengatakan korban tewas dibunuh, sedangkan informasi lainnya Saiman meninggal murni akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas).

Korban pada Sabtu (10/9), sekitar pukul 21.00 WIT, mengantarkan penumpang ojek asal Gunung Nona (daerah komunitas Kristen). Sepulangnya dari Gunung Nona, ia mengalami lakalantas di seputaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, dan oleh warga setempat dilarikan ke RSUD Haulussy Ambon. Namun sayangnya, nyawa korban tidak dapat tertolong / meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit. Informasi meninggalnya korban ini menyebar luas dan ada pihak yang sengaja mempolitisir dengan mengabarkan bahwa yang bersangkutan meninggal akibat dibunuh.

Sekitar pukul 14.00 WIT, konsentrasi massa mulai terjadi di kawasan Waringin Tanah Lapang Kecil (Talake). Bahkan warga yang mendiami kawasan perbatasan di Talake mulai mengungsi ke sejumlah sanak saudara mereka di tempat yang aman seperti Wainitu, OSM dan sekitarnya.
Disaat yang bersamaan, keluarga korban sementara melangsungkan prosesi pemakaman korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim Mangga Dua - Ambon. TPU ini berlokasi di pemukiman Kristen.

Sekitar pukul 14.30 WIT, usai pemakaman dan keluarga hendak pulang, ternyata mereka,  mulai melempari siapa saja yang ditemui di tengah jalan entah pejalan kaki maupun kendaraan yang lewat.
Massa semakin beringas manakala lima unit sepeda motor milik pengojek Kristen dibakar dan satu unit angkutan kota jurusan Air Salobar dilempari dengan batu.
Sementara itu, dua jam kemudian, konsentrasi massa semakin brutal terlihat memenuhi kawasan jalan AM Sangadji (komunitas Muslim).  Massa mulai beringas akibat provokator begitu cepat menyebarkan isu yang menyesatkan. Issu yang dikembangkan adalah Darmin Saiman meninggal karena di bunuh oleh orang Kristen.

Awal konflik terjadi dimulai dengan saling baku lempar batu.  Akibat dari konflik ini delapan diketahui meninggal dunia,  5 di komunitas Muslim dan tiga di Komunitas Kristen. Kedelapan orang ini meninggal akibat diterjang timah panas (tidak tau siapa yang menembak). Sementara puluhan orang dinyatakan mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan benda tumpul lainnya. Data yang saya peroleh dari salah satu teman Medis (kebetulan) yang bertugas di Rumah Sakit Dr. Haulusi Ambon,  sebanyak 44 orang dirawat akibat mengalami luka-luka yang cukup serius (dipastikan komunitas Kristen) , sementara di RS Al-Fatah sebanyak 65 orang dirawat akibat mengalami luka-luka  (dipastikan Muslim) dan RS Bhakti Rahayu sebanyak 14 orang juga mengalami luka-luka (dipastikan Kristen).
Konsentrasi massa tidak hanya terjadi di Jalan AM Sangadji (komunitas Muslim), akan tetapi saling baku lempar juga terjadi di kawasan Talake, bahkan informasi yang berhasil dihimpun sejumlah rumah di kawasan itu ikut terbakar. (belum ada data pastinya karena belum bisa masuk ke sana – percakapan dengan salah satu teman sebagai kontak person juga ybs belum tahu persis berapa rumah yang terbakar)
Tidak hanya korban meninggal dan luka akibat lemparan benda-benda tumpul dan tajam, tetapi sejumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang sedang terparkir di kawasan jalan AM Sangadji juga menjadi korban amukan massa. Kendaraan-kendaraan ini oleh massa dihancurkan kemudian dibakar. Massa menjadi beringas, lantaran polisi juga lemah dalam pengamanan. Hal itu terbukti dengan minimnya aparat kepolisian untuk mengamankan massa. Sedikitnya tiga sampai empat orang personil polisi saja yang menghalau massa dari dua kelompok.

Fakta ini yang membuat ketua Sinode GPM Pdt. DR. John Ruhulessin  mengecam kinerja aparat kepolisian di lapangan.  Kecamannya, bukan saja terhadap kinerja polisi pada saat melerai konflik, tapi justru ada pembiaran polisi terhadap aksi anarkis saat selesai pemakaman Darmin Saiman. Sebagai informasi, pemakaman ybs dikawal oleh kepolisian. Ini artinya ada kondisi darurat sehingga pemakaman seorang rakyat biasa harus dikawal. Namun, polisi membiarkan tindakan anarkis terjadi dengan masif.

Beberapa jam kemudian setelah massa terkonsentrasi, baru puluhan personil Brimob Polda Maluku tiba di kawasan AM Sangadji (kawasan Muslim). Tak lama kemudian ratusan personil Batalyon Infantri 733/Raider juga tiba.  (Ini tidak beda dengan adegan  film India saja).

Gubernur Maluku KA Ralahalu, Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI Suharsono, Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan, Wagub Said Assagaff, Walikota Richard Louhenapessy juga terjun langsung ke lapangan (di sekitar kawasan Tugu Trikora)  untuk menenangkan massa yang berkerumun di ruas Jalan AM Sangadji maupun ruas Jalan dokter Sutomo.
Usai menenangkan massa di kawasan tersebut, mereka juga menuju kawasan Batu Gantung untuk melakukan hal yang sama. (Kawasan ini terjadi pembakaran rumah-rumah penduduk, baik Muslim mapun Kristen)

Situasi dan kondisi Kota Ambon baru dapat dikendalikan sekitar pukul 19.00 WIT.  Namun,  Senin (12/9) dinihari pada lokasi /kawasan Mardika terjadi lagi penyerangan dan pembakaran rumah-rumah milik  warga Kristen, pagi sekitar jam 10.00 Wit saya miliki informasi dari salah satu Saudara saya yang rumahnya juga terbakar, jumlah rumah di kawasan merdeka yang terbakar berjumlah  17 rumah.
Penjelasannya, pantauan  tidak ada korban jiwa akibat terbakarnya sejumlah  rumah di Mardika , karena masyarakat sudah terlebih dahulu mengungsi ke tempat yang dianggap aman. (sebagai info,  kawasan Mardika (kristen)   berbatasan langsung dengan kawasan Batu Merah (muslim)
Aparat keamanan terlihat baru tiba di lokasi kejadian sekitar 45 menit kemudian, sementara kobaran api telah menghanguskan sejumlah tersebut. Padahal jarak lokasi terbakar dengan asrama tentara di batu merah hanya 200 meter. Aparat keamanan terlihat langsung menyekat daerah yang terbakar serta mengantisipasi pergerakaan massa yang mencoba bergerak mendekati lokasi tersebut.

Sampai kronologis ini ini tulis (jam 16.00 Wit) oleh Bung Piet situasi Ambon sudah kondusif.

LOKASI LOKASI KONFLIK
-         Tanah Lapang Kecil (talake) daerah Kristen – lokasnya Kampus UKIM (Universitas Kristen Indonesia Maluku)
-         Waringin (Muslim) – Belakang Markas Polres Pulau Ambon dan Pulaua-Pulau Lease (jaraknya hitungan meteran)
-         Mardika (Kristen)

KONDISI UMUM PENGUNGSIAN
-         Pegungsi dari Talake mengungsi ke Keluarahan Kudamati
-         Pengungsi Waringin mengungsi ke masjid al-fatah, SD Tawiri (bel RS Tentara)
-         Pengungsi Mardika mengungsi ke rumah-rumah keluarganya dan sebagian di Guest House Mulia (sewaktu di Ambon, Mas Agung dan Mba Linda nginap di sini)

MITIGASI KPM.
Dengan jaringan yang dimiliki KPM terutama kontak person – kontak person yang sementara memperjuangkan hak-hak  pengungsi pasca konflik 1999 via Mediasi Komnas, KPM coba melakukan beberapa langkah Mitigasi sebagai berikut :
1.      Merasionalkan pemicu konflik sebagai persoalan hukum, karena aparat keplosian telah melakukan olah TKP, dan kesimpulannya adalah kecelakaan tunggal. Artinya Darmin Saiman  [DS] meninggal akibat kehilangan kendali kendaraan, menabrak pohon gadihu/puring sempat dibawah ke RS oleh warga sekitar TKP lakalantas. Rasionalitasnya, kalau tuduhan kelompok Muslim bahwa  DS dibunuh oleh orang Kristen, sesuatu yang sangat kontradiktif, karena warga disekitar TKP yang menolong untuk membawa ke RS, mengamankan motornya, Hp dan dompetnya malah menelopon pihak keluarga korban  dengan menggunakan HP korban.
2.      Memintakan semua teman dan jaringan untuk merasionalkan ini ke tetangga-tetangga bahkan melalui sms ke teman-teman  lainnya.
3.      Khusus untuk teman-teman yang berdampingan (Hunuth/Kristen – Kate-Kate/Muslim) untuk melakukan koordinasi dengan pemangku kekuasaan setempat). Sempat langkah ini mendapat kendala dengan ulah sms provokatif, namun ketika saya mendapat sms provokatif itu dari teman-teman  muslim di kate-kate, (isi smsnya, sudah terjadi pembakaran Masjid di kota Ambon) saya coba untuk mengklarifikasinya ke beberapa teman yang ada di kate-kate, bahwa isu itu tidak benar karena saya sekarang ada di Kota Ambon. Akhirnya isu ini terkubur dengan sendirinya.  Langkah selanjutnya,  adalah saya langsung telepon dengan menggunakan media Telekonfrens yang ada di HP untuk berbicara langsung dengan Sakila (muslim kate2) dan Bung Frans -Kristen Hunuth)  dan mengharapkan mereka untuk perbesar speaker hp mereka supaya teman-teman disekitar mereka mendengar penjelasan saya, menjelaskan fakta keadaan Kota Ambon yang sebenarnya. Kiat ini yang saya lakukan nyaris sama di beberapa titik komunitas yang berdampingan.
4.      Menindaklanjuti mitigasi yang lebih konkrit lagi, setelah mereka semua yakin ( baca – saling percaya) disarankan untuk melakukan pertemuan-baca terbatas lintas tokoh kunci (pemuda dan RT/kepala dusun) untuk melakukan sosialisasi visual langsung ke masyarakat.
5.      Untuk area di luar P. Ambon, malam itu saya ditelepon oleh beberapa teman karena membaca running teks di TV, saya jelaskan faktanya, tapi juga berinisiatif menelepon beberapa teman yang ada di Desa Nuniali, Wakolo, Patahue  (kristen) dengan Raja Lasabata (Muslim) menjelaskan [persoalan yang sebenarnya dan memintakan mereka untuk bisa mengklarifikasi langsung ke saya tentang perkembangan demi perkembangan yang terjadi di kota Ambon. Hal yang sama juga di desa Kariu (kristen) kec. Pulau Haruku. Di Pulau Haruku, beberapa Raja telah melakukan road show dari desa ke desa untuk memberikan jaminan bahwa P. Haruku harus bebas dari konflik Ambon. Sementara dalam menulis laporan ini, bung Piet menelepon Pendeta Kariu dan sang Pendeta menjelaskan bahwa untuk lima desa sisa akan dilakukan sosialisasi besok (tgl 14 September).
6.      Untuk teman-teman yang korban langsung dan ada di tempat pengungsian, KPM hanya bisa mengadvokasi via HP untuk berkoordinasi dengan warga yang lain untuk membentuk semacam Tim Kecil internal Kamp untuk mempermudah koordinasi dengan berbagai pihak terutama untuk penanganan emergency melakukan pendataan Jumlah Pengungsi (KK, Jiwa, Laki2/perempuan, Lansia, Balita, ibu menyusui), asal pengungsi, dll.
7.      Koordinasi dengan dinas sosial kota Ambon untuk bantuan emergency, berjalan dengan baik, malah setelah bentuan disalurkan, staf dinas menelepon bung Piet, memberi tahu bahwa bantuan telah di salaurkan. Dinsos masih butuh kerjasama dengan KPM untuk validasi data sebaran pengungsi.

Demikian informasi in disampaikan dan semoga dapat menjadi bahan untuk kampanye untuk melakukan upaya klarifikasi dan juga perdamaian bagi masyarakat Ambon.

Terimakasih....................

==================================
LAMPIRAN PERTAMA:

Berikut salinan Maklumat Majelis Latupati Maluku:

MAKLUMAT  MAJELIS LATU PATI MALUKU

Tabea Basudara,

1.      Dihimbau kepada semua Masyarakat adat di maluku, khususnya Kota Ambon untuk tidak terprovokasi dengan dengan isu-isu yang menghancurkan tatanan adat & budaya kita.
2.      Membantu pemerintah daerah dalam menjaga kamtibmas, menjamin keselamatan setiap masyarakat adat yang beraktifitas dalam wilayah hukum adat negeri masing-masing.
3.      Diharapkan agar tidak memblokir jalan pada semua akses transportasi.
4.      Apabila ada provokator/penyebar isu-isu, baik SMS atau apapun, segera ditangkap dan laporkan ke pihak berwajib.
5.      Diharapkan kepada pihak keamanan agar dapat menindak tegas siapapun dia yang mengacaukan situasi ini.
6.      Diharapkan kepada semua media, baik cetak maupun elektronik, dalam menyampaikan berita-berita yang sejuk dengan penuh kebersamaan.

Mari katong ciptakan suasana yang rukun dan damai di Negeri raja-Raja ini.

Hormate,

Ketua Umum, Raja Negeri Amahusu & Sekretaris Umum, Raja Negeri Siri Sori Islam.

=======
LAMPIRAN KEDUA:

Selanjutnya adalah titah Raja Negeri Tulehu serta Seruan dan Pemberitahuan Raja Negeri Kailolo, sesuai yang mereka kirimkan melalui SMS kepada bung Piet.

Titah Raja Tulehu:

1.      Masyarakat Tulehu diminta untuk tidak terprovokasi dengan isyu-isyu sesat.
2.      Menjaga kambtimas dan menjamin keselamatan setiap orang yang masuk dalam wilayah hukum adat negeri Tulehu.
3.      Apabila ada provokator/penyebar isyu sesat, segera ditangkap dan dilaporkan ke pihak berwajib.
4.      Pelabuhan Tulehu, RSU Tulehu, UNIDAR, Kantor Camat dan instansi lainnya terbuka untuk umum dan berfungsi sebagaimana biasanya.
5.      Tulehu tetap aman dan terkendali.

Tertanda : Raja Tulehu: John Saleh Ohorella

========================================

Seruan Raja Kailolo:

Ambon harus aman, Ambon harus damai untuk warisan anak cucu kita kelak. Mari katong lawan provokator karena merekka  adalah setan dan iblis yang harus dibasmi dari negeri tercinta ini. Semoga Ambon cepat pulih.

Salam basudara semua


Raja Negeri Kailolo: Azhar Ohorella

Pemberitahun Raja Negeri Kailolo:


Ass..Wr...Wb...!!!
Pemberitahuan: Kepada seluruh masyarakat Kailolo dimanapun berada
1.      Kepada masyarakat kailolo agar tidak terprovokasi dengan konflik yang terjadi di Kota Ambon.
2.      Bagi masyarakat Kailolo yang berada di Kota Ambon agar menjauhi wilayah perbatasan konflik.
3.      Bagi masyarakat Kailolo agar tidak dijadikan sebagai alat atau tameng oleh kelompok atau orang- orang tertentu.

Demikian pemberitahuan ini agar menjadi perhatian.

Wassalam
(tolong disebarkan kepada semua masyarakat Kailolo dimanapun berada)

Raja Negeri Kailolo: Azhar Ohorella

LAMPIRAN KETIGA:
(Teman’s Data dibawah ini  saya peroleh dari Pdt Jack Manuputty ).
Maaf saya baru bergabung untuk meng-update situasi Amq. Saya baru sempat online malam ini, setelah sejak hari Minggu sampai beberapa menit tadi terus menerus melakukan koordinasi lintas kawasan dengan jaringan perdamaian lokal, serta simpul-simpul LAIM. Sekedar tambahan berita untuk melengkapi yg sudah di-share teman lainnya, terutama terkait dengan upaya-upaya meredakan konflik:
1.      Segera setelah benturan terjadi pada Minggu sore, warga masyarakat Jazirah Salahutu yg terdiri dari beberapa Negeri Muslim (Tulehu, Liang, Tengah-Tengah) dan 1 negeri Kristen (Waai) berinisiatif melakukan pertemuan kawasan pada Minggu Malam, dan mendeklarasikan Jazirah Salahutu sebagai wilayah aman. "Raja" Negeri Tulehu, John Ohorella mengeluarkan maklumat bagi masyarakatnya dan meminta tidak terprovokasi dengan perkembangan situasi di pusat Kota Ambon.
2.      Pada malam yg sama, teman-teman jejaring perdamaian lokal mulai membangun contact via telpon untuk berbagi informasi, sekalipun jaringan telpon sangat terganggu. Beberapa kelompok pemuda mengupayakan pertemuan lintas iman, tetapi situasi yg berkembang tak memungkinkan.
3.      Pada hari Senin pagi, 12 /9/11, dilakukan pertemuan antara Muspida Maluku dengan tokoh-tokoh agama, adat, dan pemuda di Kantor Gubernur Maluku. Dibuat kesepakatan untuk melokalisir dan meredakan konflik pada titik-titik benturan warga (hanya terdapat 3 titik benturan pada hari Minggu. Sampai Senin pagi bertambah lagi satu titik benturan, namun 2 titik sebelumnya telah reda)
4.      Pada Senin siang, dewan Latupati Maluku yg diketuai oleh "Raja" Amahusu bersama sekretaris Dewan Latupati, "Raja" Sirisori Salam/Islam mengeluarkan seruan penghentian kekerasan dan membangun perdamaian
5.      Senin Sore, "Raja" negeri Kailolo mengeluarkan 2 maklumat. Satunya berisi seruan untuk masyarakat umum supaya tidak mengembangkan konflik. Lainnya dituj

BNPB: Relokasi Bukan Solusi Harga Mati Bagi Korban Bencana Merapi

Parwito - detikNews

 

Magelang - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Ma’arif menegaskan relokasi bukan satu-satunya solusi untuk melakukan penyelamatan korban erupsi dan banjir lahar dingin Merapi. Sebab masih ada banyak jalan lain untuk menyelamatkan dan memulihkan mereka dari bencana itu.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala BNPB Syamsul Ma’arif Minggu(04/09/2011) usai melakukan kunjungan dan dialog dengan korban banjir lahar dingin Merapi di Hunian Sementara (Huntara) Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jateng. 

“Yah betul relokasi bukan harga mati untuk tangani erupsi dan banjir lahar dingin Merapi,” tegas Syamsul Ma’arif.

BNPB menganggap relokasi bukan satu-satunya solusi karena masih ada masyarakat di sekitar Merapi yang enggan untuk direlokasi. Sehingga secara cepat pula masyarakat harus memutuskan apabila berubah pikiran ingin dipindah. Persoalan ini pula diserahkan sepenuhnya dari BNPB kepada kepala daerah dalam hal ini gubernur dan bupati. 

“Namun ternyata semua masyarakat tidak mau turun. Oke. Sementara kita serahkan ke kepala daerah setempat yaitu gubernur dan bupati. Beberapa warga kita bangunkan rumah yang bagus. Ada diantara saudara setelah melihat rumah yang jadi turun? Silahkan. Tapi harus mengambil sikap dan langkah cepat supaya kita buatkan rencana cepat pula,” ungkap Syamsul. 

Syamsul Ma’arif menjelaskan saat ini bencana erupsi Merapi yang sudah masuk tahap rehabilitasi dan rekontruksi. Namun tidak bisa lepas begitu saja terhadap masalah kelanjutan erupsi yaitu bencana lahar dingin Merapi yang masih mengancam.

“Rencana aksi rehab rekon akan difokuskan untuk erupsi merapi lebih dahulu. Tetapi kita tidak bisa lepas dari masalah lanjutan dari erupsi. Sampai saat ini lahar dingin belum habis. Tidak mungkin kita buat rencana sepotong. Kawatir ada blue print nanti masyarakat tidak mau perubahan ada gejolak,” jelas Syamsul Ma’arif. 

Syamsul menuturkan BNPB dalam pelaksanaan rehab rekon tidak mau menunggu terlalu lama. Sehingga persoalan ancaman bahaya banjir lahar dingin Merapi yang diperediksi akan terjadi kembali bulan Oktober 2011 akan diserahkan ke pakar dan ahlinya.

“Tetapi kita tidak mau menunggu diatas 10 tahun. Polanya kita akan menanyakan ke ahli geologi dan vulkanologi. Seperti apa dan kita lalu kita lakukan prediksi. Khusus erupsi Merapi berkisar pada pemilihan tempat hunian tetap,” tutur SYamsul Ma’arif.

Total Dana Rehab Rekon Merapi Rp.1,35 T

Terkait aksi soal dana untuk tahap rehab rekon, total keseluruhan sebanyak Rp. 1,35 T. Tahun 2011 ini akan dicairkan Rp. 539 miliar. Yang dialokasikan untuk untuk 5 sektor. Sektor pertama pembuatan hunian tetap (huntap) atau perumahan karena melihat itu kebutuhan paling utama.

Di Jateng sebanyak 174 huntap yang akan dibangun. Terdiri dari 165 di Balerante, Klaten dan 9 di Magelang. Di Yogyakarta sebanyak 2.682 huntap. Sektor kedua soal infrastruktur BNPB memberikan dana Rp. 444 miliar untuk buat jembatan dan sabho dam, termasuk saya mengecek air bersih dari Umbul Wadon, Yogyakarta.

“Targetnya sebelum Desember sudah harus selesai untuk Sleman atau Yogya. Saya tadi sudah langsung kesana,” ungkap Syamsul Ma’arif.

Kemudian soal sosial ekonomi yang harus dilakukan secara berkesinambungan dan jalan terus. Sebab sesuai dengan undang undang penanganan bencana harus dilakukan secara simultan. Juga berpikir tentang kesiapsiagaan begitu ada bencana.

“Segera buat early warning system. Termasuk belikan HT ditambah lainya sehingga terjadi lahar dingin hindari korban tdk ada. Saat rehab rekon juga berpikir itu. Sehingga soal sekarang tahap apa sudah tidak relevan.

Konsep rehabilitasi dan rekonstruksi lahar dingin menurut Syamsul Ma’arif sudah dilakukan penyusunan. Namun sampai saat ini BNPB belum menemukan formulasi dan dasar yang kuat terkait pencairan dana.

“Sekarang belum punya dasar valid karena kawatir akan timbulkan prosedur masalah keuangan. Lalu kita untuk masuk mana dasarnya? Tidak bisa tanpa dasar ilmiah. Dasarnya selain itu juga adalah profesiaonalisme. Kita tdk perofesional kira-kira saja itu tidak boleh,” tukas Saymsul Ma’arif.

(fiq/van) 

Actions by Churches Together (ACT) Alliance Adakan Workshop Penanganan Perubahan Iklim di Sleman

http://www.kabargereja.tk/2011/09/acting-by-churches-together-act.html

 

SLEMAN (YOGYA) - Badan kerjasama Gereja sedunia yang fokus kepada pengembangan dan pengawasan kemanusiaan yang bermarkas di Jenewa, Swiss, ACT Alliance mengadakan workshop penanganan perubahan iklim (climate change) di Disaster Oasis Training Center, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta, Senin (05/09/2011).

 

 

Workshop berlangsung sampai dengan Jumat (09/09/2011). Pada hari pertama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Syamsul Ma'arif mempresentasikan kepada peserta dari beberapa negara asing terkait kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani bencana akibat perubahan iklim.

Perwakilan negara yang datang adalah dari Kolumbia, Tongan, Fiji, Kanada, Indonesia, Nepal, Mozambik, Filipina, Pakistan, India, Bangladesh, Vietnam, Bolivia, Honduras, Kuba, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.

"Tiap peserta memiliki latar belakang kearifan lokal dan kondisi alam yang berbeda-beda. Kita bisa belajar banyak dari mereka," ujar koordinator shelter YAKKUM Emergency Unit, Setyo Darmojo.

Rencananya, semua anggota workshop akan pergi ke beberapa daerah sekitar Yogyakarta. Di sana, setiap anggota workshop akan mengenal dan mempelajari secara langsung penanganan bencana akibat perubahan iklim pada Selasa (06/09/2011) dan Rabu (07/09/2011). Anggota workshop akan kembali pada Kamis (08/09/2011) dan Jumat untuk membahas penemuan di lapangan.

"Nantinya akan ada saran yang mereka berikan kepada masyarakat," lanjutnya. Rekomendasi langsung mereka berikan lewat kelompok masyarakat, dusun, atau kelurahan. Tujuannya adalah supaya masyarakat bisa bertahan meski tidak mendapatkan bantuan.

Tim pertama akan berkunjung ke Pangandaran, Jawa Barat. "Di sana ada varietas padi yang tahan terhadap air asin," jelas Robby.

Tim kedua akan berangkat ke Solo dan Sragen. Di Solo, tim akan mempelajari kesiapan masyarakat untuk bertahan di daerah banjir. "Sedangkan di Sragen, tim akan mempelajari koperasi yang pemerintah Sragen buat dalam rangka pengurangan resiko bencana dan pemberdayaan ekonomi," imbuh Robby.

Dalam bencana banjir di Solo, Setyo mengatakan, hal itu bukan terjadi akibat kesalahan pemerintah. "Itu terjadi akibat adanya perubahan iklim yang jelas," kata dia.

Kontribusi ACT Alliance sebagai organisasi antar gereja dunia yang membantu pengembangan sebuah negara, pemantau dan pengerak bantuan kemanusiaan kepada negara-negara yang terkena bencana alam, memiliki 100 organisasi dengan pekerja hampir 300.000 orang yang melayani pada 140 negara. (Tribunjogja/Tim PPGI)

KETIKA MASYARAKAT KORBAN MENJADI BERDAYA: KISAH PENYINTAS DI WASIOR

Fgd_di_huntara

Manokwari, 7 September 2011

Hari menjelang sore ketika tiba di hunian sementara (huntara) yang terletak di kampung Kabuow, Distrik Wondiboy. Selama rangkaian kunjungan ke huntara yang tersebar di Distrik Wasior dan Distrik Wondiboy, inilah huntara dengan konsentrasi warga paling banyak. Huntara Kabuow memiliki 30 barak, dan tiap barak terdiri atas 12 kamar, sehingga secara keseluruhan huntara ini menampung 360 keluarga dengan total 1.436 jiwa.

Kami berjalan melewati lorong barak yang ditingkahi riuhnya aktivitas di sore itu; seorang mama yang duduk menjual sirih pinang, anak-anak yang berlarian, orang yang bersiap untuk mengantri mandi, tukang cukur dadakan di muka barak, dan tukang ojek yang baru kembali dari kota. Kami terus berjalan menuju balai pertemuan diiringi tatapan penasaran para penghuni huntara. Sesampai di balai pertemuan kami harus menunggu beberapa waktu kedatangan pengurus huntara yang bersedia datang. Mereka akhirnya datang satu per satu; Bapak Frans Senandi, Bapak John Kerewai, Bapak Ruben Auri dan Bapak Alex Wambraw.

Percakapan ringan sore itu memunculkan fakta seputar kehidupan di huntara. Mereka menyampaikan bahwa warga telah mendiami huntara lebih dari 8 bulan. Apa yang membuat mereka mampu bertahan selama itu? Jawabannya terletak pada kebersamaan dan harapan. Latar belakang agama dan kesukuan di huntara ini sangat beragam, tetapi hal ini tidak melunturkan semangat kebersamaan. Terbukti ketika mereka tetap menjalankan “hari Jumat bersih” secara bergotong-royong ataupun pada saat peribadatan di mana warga Kristen dapat pergi ke gereja darurat dan warga Muslim dapat menjalankan sholat di masjid darurat.

Ada satu harapan yang diamini semua orang, yaitu mendapatkan kembali kehidupan yang layak dan bermartabat. Bagaimana caranya? Hal ini dicapai dengan terus memperjuangkan hak mereka atas jatah hidup (jadup) dan kepastian menerima hunian tetap (huntap) seperti yang dijanjikan pemerintah. Masih jelas dalam ingatan mereka bahwa Presiden dan Menteri Sosial pernah menyampaikan bahwa masyarakat korban “akan mendapatkan jadup sampai nanti menerima huntap”. Pada kenyataannya, mereka baru mendapatkan jadup sekali Rp. 150.000 di tahun 2010, dan hingga saat ini belum ada kabar dari pemerintah mengenai rencana huntap; apakah diperbolehkan kembali ke kampung asal atau relokasi. “Nanti kitorang hidup di mana?”, itu yang senantiasa menjadi kekhawatiran.

Atas dasar hal-hal tersebut, warga berinisiatif melakukan pergerakan bersama untuk mengusung tuntutan ke DPRD Provinsi di Manokwari untuk meminta pertanggungjawaban atas hak-hak tersebut. Pergerakan bersama yang dimotori oleh Tim 43 ini dikepalai oleh Bapak David Wompere, warga huntara Kabuow. "Ini suatu bentuk perjuangan rakyat yang murni mengusung kepentingan penyintas di huntara", kata Bapak Frans. Keberangkatan ke Manokwari tentu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kami penasaran dari mana tim ini mendapatkan sokongan dana. Ternyata dukungan mengalir dari sumber-sumber yang tidak diduga, seperti pengelola kapal yang memberikan potongan harga untuk mengangkut rombongan dan iuran sesama penghuni huntara untuk bertahan di Manokwari.

Pemerintah Provinsi bereaksi dengan langsung menyanggupi untuk mengirimkan 60 ton beras untuk didistribusikan ke seluruh huntara. Tetapi belum ada reaksi nyata untuk tuntutan utama; jadup dan huntap.

Percakapan harus kami akhiri karena sudah petang dan perjalanan menuju kota cukup lama. Tetapi kami tahu bahwa perjuangan mereka belum berakhir sebelum mendapatkan apa yang menjadi hak mereka. Bahkan ketika hari berganti petang, dan malam menjadi pagi, mereka tetap berupaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. (AMT)

Anastasia Maylinda

YAKKUM Emergency Unit (YEU)
Jl. Nusantara 4, no. 02
Kelurahan Wosi, Kecamatan Manokwari Barat
Manokwari, Papua Barat
98312
Tel./Fax. +62 (0) 986 212262

"
Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you" (Lao Tze)