Laporan Pemantauan Banjir Lahar Dingin


Wilayah Bantaran Kali Putih (Dusun Gebayan, dan Dusun Karang Asem) Magelang
Kamis, 03 November 2011

Dusun Gebayan, Salam, Magelang
Ketika kami datang, kerumunan warga dan relawan memadati jembatan Gebayan. Mereka melakukan pemantauan arus sungai Putih yang mengalami kenaikan sejak beberapa menit yang lalu. Menurut informasi warga yang juga relawan KSB (Paryono), sejak pukul 17.30 WIB, air sungai mengalami kenaikan hingga sekitar 4 meter dan hampir menyamai lapisan bronjong teratas yang baru saja selesai di bangun, dan deras air cukup kencang. Nampak juga deretan truk pengangkut pasir yang memadati jalan.
Sebagian warga melakukan pemantauan langsung di pinggiran kali Putih (di dekat jembatan Gebayan), dan beberapa melakukan pemantauan dengan menggunakan HT. Kawan-kawan dari KSB (Komunitas Sirahan Bangkit) melakukan koordinasi dan pemantauan dengan intens. Sedangkan untuk masyarakat di dusun sudah dimobilisasi untuk berada di titik kumpul (di Masjid Gebayan) dengan membawa ijazah, surat-surat berharga dan perlengkapan seadanya yang dimasukkan di dalam tas.
Warga yang tinggal di pinggiran Kali Putih merasa cemas karena suara / bunyi yang ditimbulkan oleh derasnya air sungai yang membawa batu berukuran besar. Selain itu, 2 orang ibu-ibu mencemaskan tentang pendidikan anak-anak mereka yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional.

Dusun Karangasem, Ngluwar, Magelang
Dalam perjalanan dari Gebayan menuju Karangasem kami mendapatkan SMS dari kepala dusun Karang Asem (Muhaimin) bahwa jembatan sementara yang merupakan penghubung dusun Karang Asem-dusun Blongkeng telah hanyut terbawa banjir lahar dingin. Jembatan itu baru dibangun oleh warga pada bulan Juli lalu, karena jembatan permanen yang dulu ada, juga hanyut dibawa oleh  banjir lahar dingin bulan Januari 2011 lalu.
Warga melakukan pemantauan di sekitar area bekas jembatan. Pemantauan dilakukan untuk melihat potensi longsor yang sangat mungkin mengenai beberapa rumah warga yang berada di pinggiran sungai. Pada saat kami berada di Karangasem, kami mendengar suara puing bangunan yang runtuh ke sungai sebanyak 4x.  
Sebagian masyarakat berkumpul di area bekas jembatan untuk memantau kondisi aliran sungai dan memantau melalui jaringan HT. Namun, mayoritas warga masih berada di dalam rumah, karena lokasi dusun Karang Asem relative aman dari ancaman banjir. Meskipun demikian, mereka melakukan persiapan dengan mengantongi ijazah, surat-surat penting lainnya, beberapa lembar pakaian dan selimut untuk dimasukkan ke dalam tas supaya mudah dibawa ketika kondisi darurat.
Kecemasan warga sudah muncul sejak hujan lebat beberapa waktu lalu (30 Oktober), karena mereka memprediksi longsoran yang mengenai dusun mereka semakin meluas. Sedangkan upaya pemulihan / normalisasi sungai / membuat tanggul dirasa mustahil karena tingginya lereng sungai.
Runtuhnya jembatan Karang Asem menyebabkan anak-anak sekolah harus berjalan memutar di dusun tetangga, dan hal itu memakan waktu yang lebih lama (lebih dari 15 menit), karena jaraknya yang menjadi lebih jauh.

Kecemasan warga terkait ancaman lahar dingin di dua dusun ini juga dirasakan oleh masyarakat di beberapa dusun lain dampingan YEU. Hal ini karena kurangnya informasi terkait upaya-upaya mitigasi banjir lahar dingin dari Pemerintah.  Masyarakat berharap mereka mendapat informasi yang jelas mengenai langkah konkrit yang akan dilakukan Pemerintah, khususnya terkait permasalahan tanggul yang jebol, jembatan yang sudah hanyut, dan meluasnya pinggiran sungai putih yang mengancam pemukiman dan lahan penduduk.

Sementara itu, warga dusun bronggang bekerja sama dengan Pemerintah Desa Argomulyo, BPBD Sleman dan jajaran Muspika setempat telah mengadakan simulasi banjir lahar dingin pada hari jumat tgl 4 Nov 2011 untuk melatih kesiapsiagaan masyarakat dan menguji prosedur tetap respon banjir lahar dingin yg telah dibuat. Meskipun hujan, simulasi berjalan cukup lancar.

Susilastuti dan Hepi Rahmawati, YAKKUM Emergency Unit