Saat itu (3/11), situasi Merapi tidak menentu. Hari baru saja hujan namun mendung masih tetap saja menggelayuti langit. Awan tebal di malam hari membuat kami tidak bisa memantau perkembangan di puncak Merapi. Andalan satu-satunya, setidaknya bagi saya, adalah update dari @jalinmerapi, akun jaringan sosial twitter yang gencar mengabarkan perkembangan erupsi Merapi.
# 1 Dari teman-teman di SPH Sentul: Sammy, Fayed, Rio, WilliamMERAPIIndah, agung, mempesona namun juga mengerikan, menakutkan Di kala ia tenang Sejuk dan permai hati memandang Namun di kala ia murka tiada sanggup kita melawannya Tuhan Engkaulah Sang Pencipta Redakanlah amarahnya Ampuni kami, selamatkan kami dari bencana# 2
Teman-temanku yang baik, Bagaimana kondisi kalian?Tentunya kalian saat ini di cekam rasa sedih, takut, gelisah, tidak nyaman, bahkan bosan karena harus tinggal di pengungsian. Aku memang belum pernah mengungsi, namun aku pernah disergap rasa bosan yang amat sangat, memang rasanya amat tidak enak. Sabar ya, teman-teman. Kami selalu berdoa untuk kalian. Percayalah bahwa Tuhan selalu menyertai kalian. Melalui para relawan, Dia menemani dan menghibur kalian. Bersandarlah dan berharaplah hanya kepada Tuhan saja, sebab Ialah pemberi kehidupan.Temanmu, Gerardus S. Sembiring SPH Sentul
Hargobinangun, Yogyakarta, Indonesia – 30/10/10 – 04:00 West Indonesia Time. Ngadinah shocked by the roaring voice of explosion coming from above her neighborhood of Boyong sub-village, Hargobinangun, Sleman, Yogyakarta.